Cerita Girsang Di Tanah Pakpak Dairii

 


"π’πˆ π†πˆπ‘π’π€ππ† 𝐃𝐀𝐍 𝐑𝐀𝐉𝐀 π˜π€ππ† π’π„π‘π€πŠπ€π‡"

Pada zaman dahulu hiduplah seorang wanita yang bernama si Mena dan suaminya yang bernama Si Girsang. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang bernma si Ciban Kiri. Sekarang Ciban Kiri terus-menerus sakit. Oleh karena itu, Girsang memerintahkan seorang dukun untuk menyiapkan obat dan ketika sudah siap, bertanya kepada dukun tentang penyebab penyakit anaknya.

 Girsang bertanya kepada peramal tentang penyebab penyakit anaknya. "Anakmu, disiksa oleh sombaon dan perlu diusir agar sembuh."jawab sang peramal. 

“Baik Tuan, jadi apa yang harus kulakukan sekarang?”, kata girsang bertanya kepada dukun itu.



“Pergilah dan carilah sebutir telur ayam , sementara aku akan mempersiapkan sesajen untuk keperluan ritual nanti’, kata si dukun kepadanya.

Si girsang pun pergi mencari keliling kampung namun dia tidak menemukan penduduk yang memelihara ayam untuk menghasilkan telur. 

“Aku dengar Raja mempunyai seekor ayam betina yang sedang bertelur. Coba kamu temui Raja itu dan minta kepadanya”, kata seorang penduduk kampung kepadanya .

Lalu Si Girsang pun pergi menemui Raja dan meminta sebutir telur untu obat buat anaknya. Sang Raja pun bertanya, “ Dengan apa kamu akan membayar sebutir telur yang kumiliki ini?

“Satu selup beras Tuanku, bukankah itu biasanya harga yang umum untuk sebuah telur ?”, jawab si Girsang dengan sopan.  Satu selup adalah takaran yang resmi di tanah pakpak zaman dahulu. Banyaknya adalah satu lengan baju yang terisi penuh. 

Sang Raja tahu jika si Girsang sangat membutuhkan telur itu sehingga dia menaikkan harganya. 


“Kau harus membayar lebih dari satu selup, karena telur ini dihasilkan dari ayam yang istimewa. Kamu harus membayar satu nalih untuk harga sebutir telur ini”, Raja menjawab sambil mengernyitkan alisnya. Satu nalih besarnya adalah dua puluh empat kali lipat dari satu selup.

Karena memikirkan anaknya yang sedang sakit itu Si Girsang pun setuju dan membayar harga telur itu sesuai dengan permintaan Raja.  Setelah mendapatkan telur itu Si Girsang pun menemui dukun itu. Kemudian mereka pun mulai mempersiapkan segala perlengkapan untuk ritual menyembuhkan anak si Girsang itu. Mereka pun mengadakan ritual penyembuhan untuk anak si Girsang itu. 

Ketika hendak memulai upacara pengobatan , ayam kepala desa berkokok sepanjang malam. Ayam itu marah karena telurnya diambil. 

“ Sebuah hal yang tidak wajar , kenapa kamu meminta harga yang mahal untuk sebutir telurku itu ?” kata sang ayam kepada raja itu. Namun sang raja tidak peduli apa yang diucapkan ayam betinanya itu. 

Lalu Sang Raja dan para pengikutnya melakukan pesta dan  upacara pemmbersihan diri ke sungai. Mereka mandi air jeruk purut yang sudah dimantrai dan dimasukkan kedalam sebuah mangkuk. Mangkuk yang berisi air jeruk purut diletakkan di atas batu yang ada di tepi sungai. Dan mereka satu persatu masuk ke dalam sungai. 

Pada saat merek mandi di sungai, tiba-tiba seekor burung sirahrah rabi terbang dan hinggap di atas mangkuk dan berkicau. Sang Raja pun mengambil batu dan melemparnya ke arah burung itu. Namun tidakk mengenai burung itu tapi malah memecahkan mangkuk itu dan menumpahkan isinya. Mereka pun pulang tanpa mandi membersihkan diri karena mangkuknya sudah pecah dan isinya tumpah. 


Sesampainya di kampung mereka pun disambut oleh burung yang tadi hinggap di tas mangkuk mereka tadi. Burung itu terus berkicau tak henti hingga membuat Raja marah dan menyuruh pengawalnya untuk membunuh burung itu. 

“ Lempar burung itu sampai mati. “, kata raja pada mereka. 

Burung itu menghindar dan sekarang terbang lalu hinggp diatas atap balai desa. Lal raja mengambil sepotong rantng dan melemparkannya ke arah burung itu. Burung itu kembali menghindar dan hinggap di atap rumah raja. Saking marahnya Sang Raja pun mengambil sebuah kayu dari perapian dan melemparkannya kepada burung itu. Kayu yang menyala itu pun melayang namun tidak mengena buruh sirahrah rabi itu. 


Atap rumah raja yang terbuat dari ijuk itu pun mulai terbakar. Api menyala dan membesar hingga rumah raja terbakar dan orang di dalamnya juga ikut terbakar. Pesta syukuran yang direncanakan setelh upacara pembersihan diri itu pun gagal. Semua kelurga raja dan pengikutnya mati terbakar di dalam rumah itu. Hanya raja seorang yang hidup dan selamat dari kebakran itu. 

“Apakah dosaku kepda kalian wahai roh Leluhurku? Kenapa hal yang buruk in terjad kepadaku?” sang Raja menangis meratapi nasibnya. 

Tiba-tiba ayam betinanya datang dan berbicara kepada Raja itu, “ Rumahmu terbakar karena kesalahanmu sendiri. Seharusnya sebagai seorang Raja , kamu haru menjdi panutan dan memberikan contoh yang baik kepada rakyatmu. “

Kalau begitu, hukum adat apa yang telah saya langgar?" tanya Sang raja kepada ayam betinanya itu. 

 "Salah satu warga desa yang membutuhkan dan datang kepadamu untuk meminta sebutir telur, kamu tidak mau memberikannya tetapi hanya menjualnya. Dia ingin memberimu satu solup beras untuk itu, tetapi kamu menaikkan harganya  jadi satu nalih . Karena ingin  nyawa anaknya selamat, dia membayar sesuai denga harga yang kamu minta. Aku berkokok sepanjang malam sebenarnya untuk memperingatkanmu namun akmu tidak mengindahkan ku. Kamu tidak peduli karena kamu hanya ingin memperkaya dirimu sendiri. Bahkan kamu berpesta tanpa ada niat mengembalikan beras yang seharusnya bukan bagianmu itu.   “ sang ayam menjelaskan kesalahan raja itu. 


Kemudian sang raja pun menagisi nasibnya. Dia kehilangan istri dan anak-anaknya karena keserakahannya. Bahkan seluruh harta bendnya juga terbakar habis. Sejak saat itu raja pun menetapkan jika harga sebutir teluer ayam adalah stu selup dan tidak boleh lebih. Jika ada yang berani menambahkan harga untuk telur itu maka sang raja tak segan menghukum mati orang itu.


Sumber Bacaan :

Bataksche Vertelingen 1894

Komentar

POPULER POST

SILSILAH TOGA SIMAMORA BERBAGAI VERSI

SILSILAH GIRSANG

PINAR SIMALUNGUN

Patuturan Dalam Ke Kerabatan Suku Simalungun

TAROMBO MARGA GIRSANG

GIRSANG Vs LUMBAN TORUAN HARIARA

SEJARAH LAHIRNYA MARGA TARIGAN

Umpasa Namarpariban

PESTA TUGU GIRSANG 2017

Radja Radja Simalungun